Telusuri Cagar Budaya, Palembang Bentuk TACB

Walikota palembang, Harnojoyo (kanan) saat melantik Tim ahli Cagar Budaya Palembang di Rumah Dinas Walikota Palembang, Kamis (10/9/2020). (Foto: Ara)

PALEMBANG, SP
- Masih rendahnya tingkat penetapan cagar budaya yang ada dan meningkatkan jumlah cagar budaya yang sudah ditetapkan di Kota Palembang, Palembang memiliki tim ahli cagar budaya yang sudah bersertifikasi.


Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Palembang, Retno Purwanti mengatakan, beranggota 7 orang dengan bidang keahlian masing-masing, seperti arkeolog, hukum, kurator museum, arsitek, budayawan dan lainnya. 


TACB Palembang dinilai sudah forum untuk melakukan sidang hingga akhirnya memberikan rekomendasi kepada walikota untuk menetapkan cagar budaya. 


“Komposisi dari TACB ini memang harus beragam, dan tersertifikasi sehingga dapat melakukan sidang dan merekomendasi cagar budaya ke walikota untuk dijadikan cagar budaya tingkat kota, kalau mencakup daerah yang lebih luas jadi ke cagar budaya provinsi dan seterusnya sampai internasional walaupun itu sulit,” ucapnya.


“Cagar budaya ini ada tim mendata/pendaftaran baik dari masyarakat ataupun lainnya, kemudian dari data ini dilakukan pengkajian, verifikasi dan menilai setelah itu dari TACB melakukan sidang dan dapat melakukan rekomendasi ke Walikota," katanya usai dilantik di Rumah Dinas Walikota Palembang, Kamis (10/9/2020). 


Retno mengatakan, untuk TACB syarat untuk dapat melakukan sidang minimal memiliki 5 anggota yang terdiri dari berbagai ahli dibidangnya yang sudah memiliki sertifikasi.


"Untuk tingkat kota minimal 5, tapi kita punya 7. Ini sudah forum untuk melakukan sidang dalam rekomendasi penetapan cagar budaya," ujarnya. 

BACA JUGA:DKP Harus Pertahankan Kesenian Lama

Adapun untuk perkembangan cagar budaya di Palembang, menurutnya sejauh ini dari data yang ada sudah berjumlah ratusan itu setidaknya dari catatan di balai arkeolog sumsel.


"Di Dinas Kebudayaan kemungkinan lebih banyak lagi, karena untuk di dinas pendataanya bisa satu - satu benda, sedangkan di arkeolog perkawasan dihitung satu cagar budaya," katanya.


Angka ini, bisa ditingkatkan lagi. Karena Palembang punya latar belakang kekayaan cagar budaya, baik itu dari peninggalan kerajaan Sriwijaya, kesultanan, bahkan kolonial. "Cagar budaya ini bisa beragam, tidak hanya benda tapi juga non benda," katanya.


Sementara untuk membuat cagar budaya menjadi tingkat internasional diakuinya ini masih sangat sulit. "Nasional saja kita masih kesulitan, apalagi tingkat internasional untuk menjadikan cagar budaya ini warisan nasional atau pun internasional," katanya. 


Walikota Palembang, Harnojoyo mengungkapkan, dengan umur Palembang yang 1300 tahun, tentu perlu dengan ahli untuk mendata cagar budaya yang ada di Kota Palembang, apalagi kekayaan latar belakang peninggalan seperti sungai yang banyak hilang dari zaman kerajaan Sriwijaya yang ada.


"Peninggalan kita banyak yang mesti kita fokus saat ini pengembalian anak sungai. kalau ini kalau mampu kita kembalikan, sebagai tempat mandi, minun, transportasi, dan ini bisa jadi nilai bagi kota Palembang dengan tag line sebagai kota venesia dari timur," katanya. 


Sehingga ini dapat menghidupkan destinasi wisata sungai yang ada dikota Palembang. Salah satu yang sedang berlangsung saat ini sampai dengan 2023 yakni restorasi sungai  sekanak  lambidaro yang menelan anggaran Rp399 miliar. 


"jangan hanya kita yang memberikan masukan bagi daerah lain seperti Lampung dengan pantainya, tapi bagaimana kita juga dijadikan tujuan sebagai kota sungai," katanya. (Ara)

Powered by Blogger.