Akibat Penundaan PON, KONI Sumsel di Hadapkan Persoalan Regulasi Batasan Usia Atlet


PALEMBANG, SP - Penundaan Pekan Olahraga (PON) Papua menimbulkan banyak persoalan bagi cabor maupun atlet, tak terkecuali bagi Komite Olahraga Nasional (KONI) Sumsel yang di buat kerepotan karena mau tidak mau menyusun ulang jadwal.

Ketua Umum KONI Sumsel Hendri Zainudin mengatakan selain persoalan teknis ada  permasalahan lain yan di hadapi oleh pihaknya seperti regulasi mengenai umur atlet karena adanya pengunduran jadwal otomatis usia atlet dipastikan akan bertambah lagi setahun. 

Contohnya sekarang atlet yang boleh tampil di PON Papua XX/2020 sampai batasan usia maksimal 24. Jika bertanding pada 2021, usianya akan bertambah setahun menjadi 25 tahun. 

"Kita minta atlet PON untuk latihan seperti biasa menjaga kebugaran tubuh sambil menunggu pengumuman selanjutnya, karena kita tidak tahu regulasi PON terkait batasan umur, berapa usia atlet yang boleh bertanding, karena tahun depan usia atlet sudah bertambah satu tahun, ini yang kita belum tahu dan harus dipahami bersama,"ujarnya, Selasa (5/5/2020)

"Saya minta atlet fokus latihan saja, ukir prestasi, jaga kebugaran tubuh, sehingga jika ada pengumuman, kita akan komunikasikan melalui surat dengan pelatih, atlet dan pengprov cabor,"HZ melanjutkan. 

Mengenai nasib atlet dan anggaran terkait penundaan PON Papua, HZ menjelaskan, jika schedule benar, bulan Juni 2020, kata Hendri, KONI Sumsel sudah menggelar Pemusatan Latihan Atlet Daerah (Pelatda) Terpusat. Jika Pelatda Terpusat digelar, maka semua anggaran tersedia, termasuk 'ekstra puding'.

"Mengenai anggaran setelah Covid-19, kita revisi ulang dan akan dikoordinasikan dengan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumsel bagaimana baiknya. Saat ini, saya tidak bisa menjawab, apakah atlet ada dana untuk vitamin, transportasi, maupun ekstra puding. Saya belum bisa memastikan karena terkait nomenklatur anggaran. Kalau di APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah), itu ada RKA (Rencana Kerja Anggaran) yang harus kita patuhi, tentu kita tidak bisa sembarangan mengeluarkan kebijakan," beber mantan Manajer PS Banyuasin tersebut.

Meski begitu HZ meyakinkan jika KONI Sumsel sangat peduli dengan nasib atlet Sumsel dan terus melakukan komunikasi secara intens.

Bahkan dalam waktu dekat, dia akan menugaskan Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres) untuk melakukan komunikasi dengan atlet, pelatih dan cabor, supaya atlet Sumsel tetap tenang dan tidak khawatir dengan penundaan PON 2020.

"Saya kembali mengingatkan agar atlet Sumsel tetap jaga fisik dan mental sehingga setiap saat siap bertanding. Untuk komunikasi kita jalin terus, meski tidak secara virtual (Via Zoom-red) karena keterbatasan kendala. Kita komunikasi melalui surat dan juga akan menugaskan Binpres untuk melakukan komunikasi yang lebih intens," kata Hendri mengakhiri. (Humas KONI Sumsel).

Untuk itu pria yang juga menjabat sebagai manajer Sriwijaya FC ini menghimbau agar semua pihak harus mengambil hikmah dari musibah Virus Corona (Covid-19), yang tidak hanya melanda Indonesia,  tapi sudah menjadi bencana di seluruh dunia.

"Kepada atlet Sumsel, ambil saja hikmah supaya tidak stres dan emosi dengan kenyataan, bahwa Covid-19 bukan hanya menjadi musibah bagi Indonesia, tapi musibah di seluruh dunia. Mari kita terus dekatkan diri dengan Allah SWT, dan jangan terlalu banyak yang dipikirkan," tukasnya. (Nis) 

Powered by Blogger.