Harga Gula Pasir Terus Meroket


- Menjelang Ramadan

PALEMBANG, SP - Harga gula pasir kian hari kian meroket naik hingga menyentuh Rp18 ribu per kilogram, ditambah lagi mendekati bulan Suci Ramadan yang diperkirakan jatuh pada pekan ketiga, April mendatang.

Seperti diakui Fitri, salah satu pedagang di Pasar Cinde Palembang yang menyebutkan, harga gula pasir terus mengalami kenaikan sejak dua pekan terakhir ini. “Februari lalu masih Rp12.500 per kilogram, terus naik Rp15 ribu, sampai hari ini menjadi Rp18 ribu. Herannya, setiap akan memasuki bulan suci Ramadan, harga gula pasir jadi naik,” katanya, Selasa ( 10/3).

Sunarti, pedagang gula di Pasar Palimo Palembang juga mengeluhkan kenaikan harga gula pasir ini. Diakuinya, kenaikan harga gula pasir ini berpengaruh pada daya beli konsumen. “Sekarang ini, dalam sehari rata-rata saya bisa menjual antara 1- 2 kilogram gula pasir, biasanya jika harganya normal bisa laku sekitar 8-10 kilogram,” ucapnya.

Hal yang sama juga dialami Tari pedagang di Pasar Kamboja, Palembang. Menurutnya, harga gula pasir yang terus mengalami kenaikan tidak dibarengi dengan pengiriman gula pasir yang berkualitas bagus. “Untuk gula pasir yang bagus kosong sejak sepekan ini, padahal gula pasir lebih banyak dibeli konsumen, tidak tahu kenapa lambat dikirimnya. Untuk produk Gulaku harganya juga naik Rp3 ribu per kilogram,” ungkapnya.

Tari berharap pemerintah bisa turun tangan, bisa mengatasi kenaikan gula pasir ini dan stok gula pasir tetap ada, karena jika tidak ada stok dirinya tidak bisa menjual gula pasir lagi. Lain halnya dengan Budi, pedagang gula di Pasar Cinde, Palembang ini menuturkan, kenaikan harga gula pasir di tingkat eceran terjadi lantaran harga dari distributor yang sudah tinggi. Ia mengaku tak berani menyimpan stok gula dengan jumlah yang banyak. “Harga satu karung ukuran 50 kilogram, saat ini sudah mencapai Rp780 ribu. Saya, tak berani menyetok dengan jumlah yang banyak," katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Iwan Gunawan mengatakan, menjelang hari-hari besar keagamaan memang cenderung terjadi kenaikan sejumlah komoditi, lantaran tingginya permintaan, sementara stok masih belum stabil.

“Tingginya permintaan ini terjadi karena konsumen banyak membutuhkan komoditi gula pasir ini, untuk membuat kue dan makanan yang manis-manis,” jelasnya saat dikonfirmasi melalui aplikasi pesan singkat, Selasa (10/3).

Masih kata Iwan, sesuai arahan dari pemerintah pusat sebelumnya, mereka telah berkoordinasi dengan Satgas Pangan dan produsen gula kristal putih, serta mengidentifikasi data stok terakhir yang dimiliki oleh pabrik gula yang berbasis tebu. Per 9 Maret 2020, data stok dilaporkan masih terdapat kurang lebih sebesar 150 ribu ton yang tersebar di seluruh gudang di seluruh Indonesia.

“Stok gula tersebut memang sebagian besar sudah dimiliki oleh pedagang. Namun demikian, Satgas Pangan tegas meminta bahwa dalam kurun waktu dua hari, gula tersebut harus segera dikeluarkan dari gudang sebelum dilakukan tindakan lebih lanjut,” katanya.

Diakuinya lagi, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri (PDN), Dirjen Perdagangan Luar Negeri (Daglu), beserta Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) serta Ketua Satgas Pangan telah mengadakan rapat lanjutan dengan para perusahaan gula yang mendapatkan penugasan untuk mengimpor gula dalam rangka stabilisasi harga. 

Masih menurut Iwan, Dirjen telah meminta agar importir segera merealisasikan ijin impor dan mengolah nya menjadi GKP untuk segera disalurkan ke pasar tradisional dan khususnya ke ritel modern. “Namun demikian mengingat mendatangkan raw sugar memerlukan waktu, maka diperkirakan hasil produksi gula eks impor baru dapat didistribusikan ke pasar pada akhir Maret atau awal April 2020,” pungkasnya. (dkd)

Powered by Blogger.