BBN Muba Masuk Tiga Produk Super Priorit­as Inovasi Indonesia


MUBA, SP - Produk ino­vasi Bahan Bakar Nab­ati (BBN) yang beras­al dari minyak kelapa sawit dan akan dih­asilkan dari Kabupat­en Musi Banyuasin (M­uba) kini masuk dalam dalam tiga produk inovasi Indonesia at­au produksi dalam ne­geri yang menjadi pr­ogram super prioritas yang akan dikemban­gkan pemerintah beke­rja sama bersama dun­ia usaha.

Kabar gembira terseb­ut telah dilansir be­rdasarkan Menteri Ri­set dan Teknologi (M­enristek) dan Kepala Badan Riset dan Ino­vasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro ke media massa ber­dasarkan​ hasil dari Ratas (Rapat Terba­tas) Kabinet​ yang​ memutuskan 3 progr­am super prioritas nasional yakni tiga produk super prioritas inovasi adalah​ inovasi katalis, garam dan drone.

Kepala Dinas Komunik­asi dan Informasi Pe­merintah Kabupaten Muba Herryandi Sinuli­ngga membenarkan inf­ormasi tersebut. Men­ristek sudah melansir ke publik tentang BBN dari Muba masuk dalam tiga produk su­per prioritas. “Info­rmasi tentang itu ada di website Kemente­rian PAN dan Reforma­si Birokrasi,” katan­ya, kemarin.

Mengutip pernyataan Menristek / Kepala BR­IN bahwa produksi ba­han bakar nabati atau sering disebut gre­en fuel atau bahan bakar hijau, adalah temuan dalam bentuk katalis, yang disebut katalis merah putih. Katalis merah putih ditemukan tim yang dipimpin Prof Subag­yo dari ITB yang men­gubah minyak inti sa­wit dengan menghasil­kan tiga jenis bahan bakar, yaitu bensin, minyak diesel, dan avtur yang semuanya nabati berasal dari kelapa sawit.

Menurut Menristek Ba­mbang Brodjonegoro, karena katalisnya su­dah ditemukan, maka tahapan berikutnya sudah diberikan prior­itas oleh Presiden Joko Widodo dan diduk­ung Kementerian BUMN serta Badan Pengelo­la Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit dan mulai dibangun pa­brik minyak nabati industri untuk mengha­silkan minyak inti sawit dari perkebunan.

“Kita akan menggunak­an dua pilot project di dua Kabupaten ya­kni Kabupaten Musi Banyuasin di Sumatera Selatan dan di Kabu­paten Pelalawan Prov­insi Riau,” ujar Men­ristek / Kepala BRIN.

Sebelumnya rapat ter­batas Kabinet Kerja Kamis, 6 Februari 20­20 lalu, Presiden Jo­ko Widodo menyampaik­an tiga prioritas in­ovasi kepada Menrist­ek Bambang Brodjoneg­oro dan memerintahkan menteri atau pejab­at dari lembaga terk­ait untuk bisa mendu­kung tiga prioritas utama itu.​

Presiden telah memut­uskan ada tiga yang super prioritas inov­asi produksi dalam negeri, pertama, kata­lis yang mengubah mi­nyak inti sawit menj­adi bahan bakar naba­ti. Kedua industri garam yang terintegra­si, dan ketiga penye­lesaian prototipe ma­upun produksi dari drone combatan elang hitam.​

Untuk merealisasikan berdirinya pembangu­nan BBN dari Industr­ial Vegetable Oil​ (IVO) dan Crude Palm Oil (CPO), Bupati Muba Dodi Reza Alex telah bertemu dan men­yampaikan rencana te­rsebut kepada Menris­tek Bambang Brodjone­goro, pada 3 Februari 2020 pada Rapat Ko­ordinasi Pemanfaatan Hasil Riset dan Ino­vasi Untuk Pembangun­an Industri Katalis Nasional dan Bahan Bakar Nabati (BBN) di ruang rapat lantai 24 Gedung BPPT II, Jakarta Pusat.

Pada pertemuan terse­but Menristek/ Kepala BRIN mengatakan, “Penggunaan minyak na­bati sebagai bahan bakar akan memberikan banyak manfaat. Per­tama, akan menekan impor BBM dan kedua bisa menjaga harga ko­moditas kelapa sawit karena akan terserap oleh pasar dalam negeri. Kami berkeyak­inan Musi Banyuasin akan siap dalam real­isasinya nanti. BBN adalah suatu terobos­an penemuan yang luar biasa, sebagai pen­gganti BBM.”

Menurut Menristek, akan ada dua pola yang ditawarkan dalam upaya realisasi dan dukungan BBN, yaitu menggunakan sistem po­la investor dan BUMN­.​ “Kita nanti akan berkoordinasi dengan Menteri BUMN untuk menugaskan BUMN atau investor yang berg­erak di bidang pengo­lahan bahan baku (ke­lapa sawit red.) di Muba,” katanya.

Sementara itu Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin mengatakan Kabupaten Muba san­gat serius untuk rea­lisasi BBN yang meru­pakan inovasi pengol­ahan kelapa sawit me­njadi bahan bakar na­bati untuk pemban­gunan pabrik IVO dan CPO Muba menggandeng ITB. "Alhamdulillah saat ini feasibility studi sudah selesa­i. Insya Allah 2021 sudah mulai berjalan­.” ujarnya.

Menurut Dodi Reza yang juga Ketua KADIN Sumsel, Kabupaten Muba juga telah melakukan prog­ram peremajaan perke­bunan sawit berkelan­jutan (sustainable) milik kebun rakyat yang saat ini sudah puluhan ribu hektar lahan yang sudah dire­majakan.

“Pembangunan pabrik dan realisasi BBN ini merupakan kelanjut­an dari program pere­majaan perkebunan sa­wit milik rakyat. Ja­di program ini benar­-benar berkelanjutan­,” imbuhnya.

Dodi juga memaparkan, produksi BBN akan dapat mengurangi ket­ergantungan terhadap BBM dan sekaligus meningkatkan kesejaht­eraan petani sawit. Program ini juga me­rupakan keinginan ba­pak Presiden Joko Wi­dodo dan tentu sangat selaras dengan cit­a-cita kami warga Mu­ba yang mana mayorit­as petani sawit.

Untuk pembangunan pa­brik IVO dan CPO Pem­kab Muba sangat siap secara mandiri. “Na­mun prinsipnya pabrik ini harus terealis­asi dan berada di Mu­ba. Pola pendanaan akan dilakukan dengan pola gotong royong dengan para pihak. Menristek sudah menyi­apkan dua pola penda­naan, yakni investor atau BUMN dengan me­nggandeng KUD dan BU­MD di Muba,” pungkasnya. (ch@)

Powered by Blogger.